Kamis, 14 Desember 2017
Hai Kenangan - Episode 3
Rabu, 04 Oktober 2017
Hai Kenangan -- Episode 2
"Sibuk gak?"
Terbaca 2 kata itu di pop up whatsapp-ku. Kuletakkan bolpoin merah yang sedari tadi kugunakan untuk mencoret-coret lembar jawaban ulangan milik murid-muridku.
"Hmm. Ada apa?" tanyaku.
Kulanjutkan aktivitas mengoreksi ulangan tadi.
Tring.
"Mau minta ajarin nulis blognya."
Tring.
"Sekarang bisa?"
Tak sadar sudut bibirku tertarik sedikit ke atas. Aku mulai berpikir harus mengetik apa sedangkan lembar koreksian masih berserakan. Sepertinya butuh 2 tahun lagi untuk menyelesaikannya. Belum mandi pula. Sabtu pagi, bosan sendiri di rumah, aku hendak membalas iya.
Tring.
"Eh, bentar, Moc. Ini aku lagi ada tamu. Sebentar lagi ya, jam 10 ketemu di Toga (daerah kota kami yang isinya tempat nongkrong dengan wifi gratis)."
Entah kenapa sesaat aku merasa kecewa. Namun tetap melangsungkan niatku berdiri dan berjalan ke kamar mandi. Mandi, ganti baju, berangkat. Sekarang 9.45. Siap.
Sampai di daerah yang dia bilang tadi, motorku melaju pelan. Sambil tolah-toleh mencari tanda-tanda keberadaannya. Ternyata dia sudah menunggu di parkiran kafe kanan jalan. Pura-pura kubetulkan letak jilbabku. Senyumnya tersungging malu-malu. "Kamu sama aku aja atau sama yang lain juga gitu?" pikirku.
TO BE CONTINUED
Selasa, 07 Maret 2017
Hai Kenangan
Aku melajukan motorku dengan kecepatan sedang. Menuju sebuah tempat yang dia janjikan akan menungguku malam itu. Cukup mendadak memang. Aku baru melepas lelah di rumah setelah perjalanan cukup jauh dari tempat kerjaku saat dia mengajakku bertemu di whatsapp.
"Kamu kok bisa sih, nulis blog gitu? Ajari aku buat bikin blog gitu poo, " tulisnya. Kubaca sambil tersenyum kecil.
"Haha. Iya, maunya kapan?" balasku.
"Skrg ta? Sibuk gak?" itu Sabtu. Malam minggu.
"Ayo wes, ketemu dimana?"
"Emm.. Dimana yo, yang WiFinya cepet? Kan kamu paham dunia percafean di sini, Moc," dia memang memanggilku dengan sebutan itu.
"Hahaha, dimana yo Mas Pay, aku yo bingung. Blessing setauku. Hemmm.. Tentuin wes," kubalas dengan panggilan dia juga (yang juga berasal dariku).
"Ketemu di akar wes, jam setengah tujuh."
"Oke."
Malam itu adalah kali kedua aku duduk mengobrol dengannya. Aku sudah beberapa kali berpapasan atau bertemu dengannya di kampus kami dulu, dan tahu namanya, dengan sedikit latar belakang cerita asmaranya. Bukan karena aku ngefans atau naksir. Tapi cewek yang dulu berpacaran dengannya memiliki cerita kontroversial yang tidak bisa kulupakan. Lebih baik tidak usah kuceritakan karena sejujurnya aku ingin ketawa waktu menulis ini. 😂
Pertama mengobrol adalah aku tidak sengaja melihatnya berjalan ke arahku di tengah ramainya alun-alun kota yang sedang mengadakan acara musik. Aku menonton dengan teman dekatku yang sudah kuanggap sebagai, yah teman dekat. Tidak lebih. Kusapa dan kuminta duduk di sebelahku. Dan saat itu aku juga baru menyadari bahwa selama ini aku belum pernah sekalipun ngobrol dengannya. Entah kenapa aku berani memanggil, menyapa, mengajaknya duduk di sampingku, mengobrol seperti sudah lama kenal. Suaranya sudah tidak asing. Ketawanya juga tidak asing. Seperti sudah kenal lama. Entah dia merasakan juga atau hanya perasaanku saja. Sampai akhirnya dia meminta id game Duel Otak milikku, memberiku 3 lagu dari Payung Teduh (band kesukaannya kala itu, kalo gak salah judul lagunya Resah, Untuk Wanita Yang Sedang Dalam Pelukan, dan Angin Pujaan Hujan), dan menginvite pin bbm ku dengan niat untuk menanyaiku pendapatku tentang ketiga lagu tadi saat aku selesai mendengarnya. 😊
Kembali ke pembicaraan di cafe tempat dia menungguku malam itu, sejujurnya sudah lama aku ingin ke sana. Dan tidak berani mau ke sana sendiri karena kulihat selalu banyak cowok yang ada di situ. Dan malam itu terealisasi. Awalnya pembicaraan kami ringan, tapi lama-lama semakin berbobot. Bukan berat, ya!
"Kadang orang-orang suka sama sesuatu suka berlebihan," katanya.
"Kayak apa maksudnya?"
"Contohnya, kayak orang yang suka klub bola. Sampe suka berantem-berantem kalau tim yang mereka suka dihina sama fanclub-nya tim lain. Dan lucunya, tim itu sendiri juga nggak tau tentang itu. Nggak peduli. Kenal aja nggak!"
"Hahaha bener seh...," jawabku tulus.
"Padahal orang atau tim yang mereka idolakan itu pasti yo enek bosok e. Kalau sekali ketauan bosok e, kebanyakan jadi kecewa, ilfil, padahal itu selalu ada. Coba deh, Moc. Kamu ada nggak orang yang kamu sukaaaaa banget sampe menurutmu dia sempurnaaaa banget gak ada kurangnya?" dia bertanya.
"Ada," jawabku singkat. Aku tahu pasti yang dia maksud tentang cowok-cowok idola cewek-cewek jaman itu kayak oppa-oppa k-pop or something.
"Siapa?"
"Nabi Muhammad SAW," jawabku mantap sambil senyum. Dia menahan tawa, dengan senyumnya. Semacam gemes.
"Iyoooo. Bukan Beliau tapi maksudku. Haha."
Menghabiskan waktu dengan kopi, laptop yang membuka akun blog masing-masing (punya dia baru bikin malam itu), dari obrolan ringan sampai berat.
"Coba liat sekeliling, deh." aku spontan melihat orang-orang disekelilingku. "Kamu tahu nggak, sekarang manusia hidup di dua dunia."
"Ha?" gumamku tak mengerti.
"Iya, dunia nyata sama dunia maya."
"Oh... Iya sih," aku mangut-mangut.
"Tapi sebenernya mereka (manusia) nggak nyadar kalau mereka nggak bisa berada di dua dunia sekaligus. Mungkin kita nggak ngerasa, kalau saat kita udah ngambil hape, megang hape, ngutek hape entah itu fb atau ig, kita udah travelling ke dunia lain. Jadi badan kita ada di situ, cuman jiwanya udah ilang, udah gak di situ lagi. Paham gak?" jelasnya. Dan aku yang melongo, seperti baru menyadarinya.
"Bener juga."
Kami mengobrol banyak sampai dia akhirnya menyadari bahwa aku sedang bimbang memikirkan sesuatu.
Akhirnya aku cerita bahwa cowok yang selama ini kutaksir, tepat besoknya janji akan datang menemuiku di rumah. Aku tidak tahu apa artinya. Kukira dia (cowok yang kutaksir itu) akan bicara kepadaku tentang perasaannya atau apa. Aku bingung harus apa karena seminggu sebelumnya aku menyatakan perasaanku yang sudah kupendam bertahun-tahun padanya secara langsung tapi kenyataannya dia tidak merasakan hal yang sama. Hehe. Lalu aku bimbang, untuk apa dia akan mendatangiku besok?
Hahaha. Tapi topik itu bisa teralihkan oleh topik yang lain. Banyak sekali yang kami bicarakan kala itu. Rasa senang, rasa susah, rasa bingung, kesukaannya, kesukaanku, kesukaan orang-orang, sampai keresahan yang terjadi di masyarakat. Aku sangat menikmati itu. Aku sampai berpikir, apa mungkin malam minggu yang akan datang dia akan mengajakku bertemu lagi? 😊 Sepulang dari sana, dia tidak menghubungiki lagi hingga datang hari Sabtu berikutnya. Dan ya, dia mengajakku bertemu lagi. :)
Cut dulu ya guys, nyambung kapan-kapan! 😂👍
Sabtu, 31 Desember 2016
Welcoming 2017: New Year's Resolution
Hai happy readers..
Wah.. Banyak kosongnya ya.
Banyak males nulisnya daripada rajinnya. I'm sorry baru sempet nyapa sekarang.
Well. Sekarang tanggal 31 Desember. Yup, saatnya menulis resolusi akhir tahun. Tapi sebelumnya kita flashback dulu ke resolusi taun kemarin yaa.
Jadi resolusi saya tahun kemarin ada 3. Memantapkan hati, dapet kerjaan tetap (pns), dan mengembangkan skill mengajar saya.
Yang pertama alhamdulillah.....agak berhasil. Jadi saya sempet pacaran sama seseorang (sebut saja mas pay) kemudian kita putus karena sesuatu hal yang sebenernya nggak kita inginkan. Bukan, bukan karena saya nyeleweng lagi. Intinya sepertinya dia yang nggak cocok sama saya. Lalu 2 bulan setelah itu, saya dilamar sama teman baik saya. Ya... Dia saya anggap teman baik saya dari dulu. Dan seharusnya saya menyadari dan mendengarkan kata kakak saya, kalau orang seperti dia hanya bisa kita anggap sebagai teman baik, tidak lebih. Pertunangan kami tidak berjalan lancar. Pernikahan yang dijadwalkan pada bulan Desember, batal di bulan September. Ya, officialnya sih, batal November kemarin. Tapi saya sudah memutuskan tidak berhubungan dengannya sejak September.
Kenapa kok batal? Kenapa ep? Gak nyesel?
Untuk cerita mendetailnya gak perlu saya ceritain, ya.... Atau boleh langsung menghubungi saya. Tapi yang jelas, cerita dari saya dan dari mantan saya pasti beda. Tidak ada yang salah, karena apa yang kami rasa dan kami pikirkan berbeda.
Terus sekarang sama siapa, ep?
Emmmm...... Di akhir Oktober kemarin, saya nonton konser Efek Rumah Kaca, sama....mantan. Ahaa. Iya, sama mas pay. Seru banget suasananya. Sebelum saya diantar ke kos temen (numpang tidur di kos Angga. Dia sahabat buaaaiik pas kuliah yang sekarang lagi lanjutin S2. Say hello dulu.), dia menawarkan untuk mencoba melanjutkan hubungan kita yang dulu tidak berhasil. Iya, hubungan yang bikin kita berdua sama-sama nggak bisa move on. Akhirnya sampe sekarang sama dia lagi.
Ehm. Sudah. Jadi cerita cinta. Back to the topic.
Resolusi kedua, nggak ada tes seleksi CPNS. Aha. Jadi tidak bisa terealisasi.
Resolusi ketiga, tentang pengembangan skill mengajar. FYI, pada tahun ajaran 2016/2017 seperti yang sudah saya ceritakan, selain mengajar kelas 12 MA saya juga mengajar kelas 7 MTs, merangkap sebagai wali kelas. Dan astagaa.....lelahnya. Tapi tetap semangat. Dan by the way, saya juga menerima jadwal les di rumah. Kebetulan ada salah satu siswa saya kelas 9 yang berhasil mencapai rangking pertama di kelasnya. Dan dia udah gak sabar buat les lagi. Yey!
So, *tepuk tangan dulu* untuk resolusi mendatang.....
1. Tetep, mantepin hati aja. Hahaha. Mungkin lebih tepatnya ke sabar nunggu ya. Nunggu dilamar mungkin. Udah terlanjur sayang (bingit), jadi nunggu pun nggak masalah. Pasti ada yang bilang saya bodoh, atau apa karena nungguin yang nggak pasti. Tapi masa bodo lah. Saya sudah pernah dijanjiin yang katanya pasti, toh ujung2nya juga putus.
2. Resolusi kedua jadi bimbang. Apa saya harus ikut tes CPNS? Untuk membahagiakan orang tua? Apa saya tidak bisa membahagiakan mereka dengan cara lain saja? Saya takut terlalu sibuk, dan jadi kehabisan waktu buat hal-hal yang nantinya jadi kewajiban saya. Terutama mengembangkan diri dan jadi lebih bermanfaat buat orang lain. You know lah.
3. Yang ketiga, tetep. Mengembangkan skill mengajar. Selain mengajar, juga skill jadi ibu rumah tangga. Yok, belajar masak terus, ep!
Sampun, ya. Saya sudah diteriakin buat mandi. Salam 😊
Kamis, 01 Desember 2016
Aku Ada
Song by : Dewi Lestari (featuring Arina Mocca)
Melukiskanmu saat senja
Memanggil namamu ke ujung dunia
Tiada yang lebih pilu
Tiada yang menjawabku
Selain hatiku dan ombak berderu
Di pantai ini kau slalu sendiri
Tak ada jejakku di sisimu
Namun saat ku tiba
Suaraku memanggilmu
Akulah lautan kemana kau selalu pulang
Jingga di bahuku
Malam di depanku
Dan bulan siaga
Sinari langkahku
Ku terus berjalan
Ku terus melangkah
Ku ingin ku tahu engkau ada
Memandangimu saat senja
Berjalan di batas dua dunia
Tiada yang lebih indah
Tiada yang lebih rindu selain hatiku
Andai engkau tahu
Di pantai itu kau tampak sendiri
Tak ada jejakku di sisimu
Namun saat kau rasa
Pasir yang kau pijak pergi
Akulah lautan memeluk pantaimu erat
Jingga di bahumu
Malam di depanmu
Dan bulan siaga
Sinari langkahmu
Teruslah berjalan
Teruslah melangkah
Ku tahu kau tahu aku ada
Jingga di bahumu
Malam di depanku
Dan bulan siaga
Sinari langkahku
Teruslah berjalan
Teruslah melangkah
Ku tahu kau tahu aku ada
Ku terus berjalan
Ku terus melangkah
Ku tahu kau tahu aku ada
~~~~~~~~~~~~~~~~~
Suka banget lagu ini dari beberapa tahun yang lalu, guys. 😊
Dan musiknya seirama sekali dengan suasana hati di malam yang diguyur gerimis ini.
Hei kamu, aku rindu.