Tampilkan postingan dengan label love life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label love life. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Maret 2017

Hai Kenangan

Aku melajukan motorku dengan kecepatan sedang. Menuju sebuah tempat yang dia janjikan akan menungguku malam itu. Cukup mendadak memang. Aku baru melepas lelah di rumah setelah perjalanan cukup jauh dari tempat kerjaku saat dia mengajakku bertemu di whatsapp.

"Kamu kok bisa sih, nulis blog gitu? Ajari aku buat bikin blog gitu poo, " tulisnya. Kubaca sambil tersenyum kecil.
"Haha. Iya, maunya kapan?" balasku.
"Skrg ta? Sibuk gak?" itu Sabtu. Malam minggu.
"Ayo wes, ketemu dimana?"
"Emm.. Dimana yo, yang WiFinya cepet? Kan kamu paham dunia percafean di sini, Moc," dia memang memanggilku dengan sebutan itu.
"Hahaha, dimana yo Mas Pay, aku yo bingung. Blessing setauku. Hemmm.. Tentuin wes," kubalas dengan panggilan dia juga (yang juga berasal dariku).
"Ketemu di akar wes, jam setengah tujuh."
"Oke."

Malam itu adalah kali kedua aku duduk mengobrol dengannya. Aku sudah beberapa kali berpapasan atau bertemu dengannya di kampus kami dulu, dan tahu namanya, dengan sedikit latar belakang cerita asmaranya. Bukan karena aku ngefans atau naksir. Tapi cewek yang dulu berpacaran dengannya memiliki cerita kontroversial yang tidak bisa kulupakan. Lebih baik tidak usah kuceritakan karena sejujurnya aku ingin ketawa waktu menulis ini. 😂

Pertama mengobrol adalah aku tidak sengaja melihatnya berjalan ke arahku di tengah ramainya alun-alun kota yang sedang mengadakan acara musik. Aku menonton dengan teman dekatku yang sudah kuanggap sebagai, yah teman dekat. Tidak lebih. Kusapa dan kuminta duduk di sebelahku. Dan saat itu aku juga baru menyadari bahwa selama ini aku belum pernah sekalipun ngobrol dengannya. Entah kenapa aku berani memanggil, menyapa, mengajaknya duduk di sampingku, mengobrol seperti sudah lama kenal. Suaranya sudah tidak asing. Ketawanya juga tidak asing. Seperti sudah kenal lama. Entah dia merasakan juga atau hanya perasaanku saja. Sampai akhirnya dia meminta id game Duel Otak milikku, memberiku 3 lagu dari Payung Teduh (band kesukaannya kala itu, kalo gak salah judul lagunya Resah, Untuk Wanita Yang Sedang Dalam Pelukan, dan Angin Pujaan Hujan), dan menginvite pin bbm ku dengan niat untuk menanyaiku pendapatku tentang ketiga lagu tadi saat aku selesai mendengarnya. 😊

Kembali ke pembicaraan di cafe tempat dia menungguku malam itu, sejujurnya sudah lama aku ingin ke sana. Dan tidak berani mau ke sana sendiri karena kulihat selalu banyak cowok yang ada di situ. Dan malam itu terealisasi. Awalnya pembicaraan kami ringan, tapi lama-lama semakin berbobot. Bukan berat, ya!

"Kadang orang-orang suka sama sesuatu suka berlebihan," katanya.
"Kayak apa maksudnya?"
"Contohnya, kayak orang yang suka klub bola. Sampe suka berantem-berantem kalau tim yang mereka suka dihina sama fanclub-nya tim lain. Dan lucunya, tim itu sendiri juga nggak tau tentang itu. Nggak peduli. Kenal aja nggak!"
"Hahaha bener seh...," jawabku tulus.
"Padahal orang atau tim yang mereka idolakan itu pasti yo enek bosok e. Kalau sekali ketauan bosok e, kebanyakan jadi kecewa, ilfil, padahal itu selalu ada. Coba deh, Moc. Kamu ada nggak orang yang kamu sukaaaaa banget sampe menurutmu dia sempurnaaaa banget gak ada kurangnya?" dia bertanya.
"Ada," jawabku singkat. Aku tahu pasti yang dia maksud tentang cowok-cowok idola cewek-cewek jaman itu kayak oppa-oppa k-pop or something.
"Siapa?"
"Nabi Muhammad SAW," jawabku mantap sambil senyum. Dia menahan tawa, dengan senyumnya. Semacam gemes.
"Iyoooo. Bukan Beliau tapi maksudku. Haha."

Menghabiskan waktu dengan kopi, laptop yang membuka akun blog masing-masing (punya dia baru bikin malam itu), dari obrolan ringan sampai berat.

"Coba liat sekeliling, deh." aku spontan melihat orang-orang disekelilingku. "Kamu tahu nggak, sekarang manusia hidup di dua dunia."
"Ha?" gumamku tak mengerti.
"Iya, dunia nyata sama dunia maya."
"Oh... Iya sih," aku mangut-mangut.
"Tapi sebenernya mereka (manusia) nggak nyadar kalau mereka nggak bisa berada di dua dunia sekaligus. Mungkin kita nggak ngerasa, kalau saat kita udah ngambil hape, megang hape, ngutek hape entah itu fb atau ig, kita udah travelling ke dunia lain. Jadi badan kita ada di situ, cuman jiwanya udah ilang, udah gak di situ lagi. Paham gak?" jelasnya. Dan aku yang melongo, seperti baru menyadarinya.
"Bener juga."

Kami mengobrol banyak sampai dia akhirnya menyadari bahwa aku sedang bimbang memikirkan sesuatu.

Akhirnya aku cerita bahwa cowok yang selama ini kutaksir, tepat besoknya janji akan datang menemuiku di rumah. Aku tidak tahu apa artinya. Kukira dia (cowok yang kutaksir itu) akan bicara kepadaku tentang perasaannya atau apa. Aku bingung harus apa karena seminggu sebelumnya aku menyatakan perasaanku yang sudah kupendam bertahun-tahun padanya secara langsung tapi kenyataannya dia tidak merasakan hal yang sama. Hehe. Lalu aku bimbang, untuk apa dia akan mendatangiku besok?

Hahaha. Tapi topik itu bisa teralihkan oleh topik yang lain. Banyak sekali yang kami bicarakan kala itu. Rasa senang, rasa susah, rasa bingung, kesukaannya, kesukaanku, kesukaan orang-orang, sampai keresahan yang terjadi di masyarakat. Aku sangat menikmati itu. Aku sampai berpikir, apa mungkin malam minggu yang akan datang dia akan mengajakku bertemu lagi? 😊 Sepulang dari sana, dia tidak menghubungiki lagi hingga datang hari Sabtu berikutnya. Dan ya, dia mengajakku bertemu lagi. :)

Cut dulu ya guys, nyambung kapan-kapan! 😂👍

Minggu, 06 September 2015

Apa Itu Platonic Love?

Hallo happy readers! Kali ini saya akan membahas mengenai platonic love. Muter-muter di pikiran saya dari kemarin sore. Sampai tadi pagi di tempat kerja ditegur sama senior, "kenapa kok suram gitu wajahnya? Gara2 status platonic kemarin sore ya? Memang masih ada ya cinta semacam itu?"

Saya cuma senyum. Saya tahu istilah "platonic" itu sekitar satu tahun yang lalu, dari series How I Met Your Mother season 9. Saya kira orang Indonesia nggak ada yang tahu (karena memang jarang terdengar istilah tersebut). Karena penasaran, jadi langsung saya tanya ke senior saya. Takutnya pengertian platonic love milik beliau berbeda dari yang saya tahu.
"Bu, memang platonic love itu apa menurut njenengan (anda)?"
Beliau menjawab, "cinta platonik atau platonic love itu cinta yang tulus sebagai sahabat. Tapi yang bener-bener tulus. Tidak menginginkan lebih. Tidak pacaran. Kakak adik juga bukan."
Saya makin penasaran, "tapi gitu itu bisa 'jadi' ya, bu?" Iya maksa. "Bisa jadi, mungkin. Tapi ini cinta yang tulus dlm persahabatan lho. Kenapa? Terjebak dalam cinta platonic?"
Saya senyum sekali lagi. Kalau yang dirasakan itu platonic, bagaimana bisa merasa terjebak?

Dari series HIMYMs9, yang saya tangkap platonic adalah hubungan antara 2 orang, laki-laki dan perempuan, saling menjaga saling peduli dan tanpa keinginan untuk saling memiliki (secara fisik). 

Gampangannya gini, jika dua orang tersebut ditinggalkan dalam 1 dunia atau ruang "tak berbatas" berdua saja, tidak akan ada sesuatu yang terjadi. Tidak ada sexual intention-lah. Bahkan jika kondisinya benar-benar memaksa, mereka berdua tidak dapat melakukannya. Cinta mereka ada. Tapi bukan cinta semacam itu.
"If a man and woman are forced to make out with each other on the next 20 minutes and none of them can do that, they're platonic. But if they're twenty minutes away from happily ever after, then they're not platonic."
Anything can happen in 20 minutes. Jika kamu diberi waktu 20 menit saja untuk hidup dan harus menyatakan perasaan kepada seseorang, kemudian kamu melakukannya, itu bukan platonic namanya.
Saya melakukan riset (halah googling aja bilangnya riset). Dari beberapa sumber, ternyata derajat ketertarikan pada lawan jenis itu ada 5. Ini di antaranya:

1. Aestetik
Ketertarikan pada lawan jenis yang didasari pada ketertarikan akan apa yang dilihat saja, seperti kecantikan atau penampakan dari luar. Tidak ada keinginan untuk berhubungan, dekat, dan sejenisnya.

2. Platonik
Ketertarikan pada lawan jenis in sense of family or friendship. Keinginan untuk terus dekat, peduli, tapi tidak ada ketertarikan secara seksual.

3. Sensual
Ini juga semacam platonik, tapi ada keinginan untuk mendapatkan sentuhan, seperti pelukan, ciuman, atau hubungan yang lebih dekat lainnya.

4. Romantik
Ketertarikan jenis ini adalah ketertarikan antara lawan jenis yang benar-benar didasari pada keinginan untuk berhubungan (pacaran maksudnya, atau menikah?). Jadi yang jenis ini ada goalnya. Pacaran. Atau menikah. Pokoknya gitulah.

5. Seksual
Gimana jelasinnya ya, ketertarikan jenis ini mungkin kalian juga udah pada paham. Jadi tertariknya didasari sama keinginan untuk melakukan hubungan seks. Biasanya juga gara2 penampilan fisik. Bedanya kalo yang aestetik tadi gak ada keinginan lebih lanjut dari ketertarikan itu, kalo yang ini goalnya ya itu.


Dari macam-macam ketertarikan (attraction) tersebut, sudah jelas bahwa platonic ada di urutan kedua dari skala tertarik dan bener-bener "tertarik". Platonik tidak mengharapkan apa-apa. Cuma saling care aja. Karena masih penasaran, saya coba cari di wiki.

Gagasan platonik ini dipopulerkan oleh Plato, dari Yunani tentang cinta platonik.
  • Platonik adalah hubungan cinta antara dua orang tanpa adanya sexual intention. Masih sama artinya.
  • Platonik adalah hubungan antara laki-laki dan perempuan yang suci, tulus, dan menghargai. Lagi, tanpa adanya ketertarikan untuk berhubungan lebih jauh.
  • Platonik adalah nama keren dari FRIENDZONE. What? No no no.

Sebenarnya iya juga sih. Tapi menurut saya, arti kata friendzone sudah bergeser. Friendzone sekarang lebih tepatnya adalah keadaan dimana laki-laki dan perempuan bersahabat, tapi salah satu memiliki intention untuk berhubungan lebih. Lebih dari sahabat. Sedangkan pihak satunya tidak begitu. Dia menganggap pertemanan tersebut wajar seperti pertemanan biasa lainnya. Itu friendzone menurut saya.

Kalau platonik? Platonik itu lain. Dia punya kata chaste. Suci. Tulus. Sahabat. Family. Dan perasaan ini harus dirasakan dari kedua belah pihak. Biasanya memang yang kayak gini susah disadari oleh pihak yang mengalaminya sendiri. Karena terlalu tulus mungkin. Gak nyadar kalau ini juga jenis dari attraction.

Memang sering muncul pertanyaan dari orang-orang, "udah sama si itu aja. Dia baik gitu sama kamu." "Eh? Kalian gak pacaran? Ah padahal cocok." Dan lain-lain. Tapi pihak yang dimaksud malah menjawab:
"What?? No. No. No. There's no way we can be together. Him/her? No. He/she's a total friend."
Iya gitu.

Kadang ada yang bingung. Lagi sahabatan sama lawan jenis, tapi perasaan kalian sebenarnya apa? Perasaan sahabat kalian sebenarnya apa? Mungkin kalau dirasa penting, bicarakan. Tapi jangan tanya langsung ya, biar nggak awkward. Selipin pertanyaan dengan obrolan-obrolan garing dan gak penting kalian. Tanyakan definisi romantisme dan persahabatan di matanya. Kamu juga kasih pendapat juga, kalau dia beneran sahabat kamu dia pasti ngerti ujungnya. Tapi inget, jangan baper.

Ada yang mengalami? Pasti banyak. Saya sendiri juga mengalami. Saya dan kembaran punya teman yang sudah kami anggap seperti kakak kami sendiri. Ya meski gak ada yang nanyain atau nyuruh kami buat pacaran *muntah*, tapi kembaran saya sama dia pernah dicurigain ada sesuatu oleh teman-teman. Huahaha pengen ngakak. Sekarang dia udah pindah ke Jogjakarta, tapi kami masih berhubungan via chat. Cek blognya dia ya buat download video anime >> Anime Eye's

Udah segitu dulu postingan gak penting siang ini ya, happy readers! Moga bisa nambah informasi dan sedikit inspirasi. Oiya, kalau masih belum nangkep juga, bisa nonton series How I Met Your Mother season 9 episode "Platonish". Worth it kok. Ya kira-kira seperti itulah. Hehehe. Saya tutup dengan quote menarik dari Ted Mosby-nya tentang perasaannya pada Robin saat berbicara pada Marshall Erikson di akhir episode.
"You're right. We're not platonic. Platonish, maybe." --Ted Mosby

Minggu, 30 Agustus 2015

Buat Kamu Ladies yang Merasa Jadi Pilihan Terakhir Si Dia

"What? Jadi aku cuma pilihan terakhirnya dia aja? Terus aku ngapain terus-terusan nungguin dia?"

Pikiran kayak gini mungkin sering muncul di benak kamu (ladies) yang sedang berada di zona ketidakpastian dari cowok. Zona ketidakpastian alias digantungin.
Hubungan kamu dengan dia, teman. Tapi kadang kalau ditanya orang hubungan kalian apa, sering dibumbui kata CUMA teman atau SEBATAS teman. Selain untuk meyakinkan orang yg nanya, kamu juga berkata seperti itu untuk memastikan diri sendiri supaya tidak mengharap lebih.
Hubungan kamu dengan dia, teman. Tapi udah nggak kayak teman lagi. Kamu sering mikirin dia. Kamu carenya sama dia udah care melebihi care sama temen-temen lain. Kamu sering keluar bareng sama dia dan ngerasa kurang kalo sehari gak ngobrol sama dia. Dia pun begitu (sepertinya). Tapi kalian nggak pacaran.  Enggak pernah punya panggilan "sayang", "cinta", "bebi", dan panggilan-panggilan lain yang bikin geli.

Mungkin memang ada sedikit momen-momen romantisme, yang membuat kamu merasa dia patut dipertahankan. Patut diperjuangkan. Tapi siapalah kamu, yang hanya perempuan. Terlalu gengsi atau malu untuk maju duluan. Sampai suatu saat dia menyatakan kerumitannya tentang perasaan.

Dia bilang. Dia memiliki perasaan padamu yang melebihi perasaan untuk seorang teman. Hati kamu bersorak kegirangan. Bunga-bunga bermekaran. Lalu semuanya luruh saat dia berkata tidak bisa menjalaninya sekarang. Tidak bisa untuk mengikatkan sebuah komitmen hubungan wajar laki-laki dan perempuan. Kita cukuplah saat ini menjadi teman.

Apa yang kamu rasakan? Senang. Tapi apa yang sebenarnya kamu inginkan? Hubungan? Iya kan? Akhirnya kamu sering menerka-nerka mengapa dia berkata demikian. Mengapa dia menyatakan perasaan kalau akhirnya kamu digantungkan? Apa kamu hanya pilihan?

(Sudah ah main rima2annya. Capek mikir. Wkwk mikir sambil curhats)

Di sini pasti kamu (ladies) yang lagi digantungin yang merasa seperti itu ya. Apa dia cuma jadiin kamu pilihan terakhirnya? Dia masih memilih-milih cewek lainnya? Kalau gak ada yang mau sama dia akhirnya pilihan terakhir ya cuma kamu. Gitu? Kamu tersinggung? Iya. Dia egois. Dia sudah berani bilang kalau kita spesial. Dia tidak memikirkan apa yang terjadi pada hati kita waktu dia bilang hal semacam itu kan? Habis dibikin terbang terus dijatuhkan. Tapi anehnya kita masih bertahan. Ya itu tadi. Radak gebleknya. #ups

Tapi itu boleh jadi cuma pikiran buruk kamu aja sih. Ya namanya sesuatu yang gak pasti, artikel ini juga mungkin cuma spekulasi. Tapi beberapa minggu yang lalu saya habis dapet pencerahan tentang hal ini. Begini...

Saya diceritain sama temen saya, cowok. Nggak terlalu akrab sih, tapi dia suka cerita-cerita tentang pernikahannya dia. *eak jadi pengen*
Jadi dia pernah punya masalah dengan istrinya gitu. Rumah tangga ya, jadi masalahnya udah bukan drama2an anak pacaran. Pasti ada cekcok kan? Dan di akhir cekcok, *ini yang paling saya tangkep dari ceritanya* istrinya sampe nanya, "Sebenernya mas nikah sama aku itu karena apa?" Dan temen saya yang cowok itu menjawab dengan enteng, "Nggak ada lagi."

Saya dan beberapa temen cewek lain yang dengerin cerita itu langsung diem. Speechless. Tega banget bilang gitu padahal itu istrinya sendiri. Lalu dia melanjutkan cerita. Saya masih radak blank sama kalimatnya barusan. Gak denger the rest of the story sampe dia bilang lagi, "sebelum kita nikah itu proses memilih. Udah nggak ada lagi, jadi ya saya nikah sama dia."

Ohhh.

Iya, oh. Bener ladies, dia mungkin lagi milih-milih cewek buat jadi pendampingnya dia. Mungkin kalau katanya Bang Tere Liye sambil memantaskan diri. Tapi iya, pilihannya mungkin juga bukan kamu saja. Kamu jadi pilihan terakhir? Hei! Itu penghargaan!

Penghargaan gimana? Pilihan terakhir. Berarti sekarang dia (sambil perbaikan diri mungkin) lagi mencari cewek yang sekiranya lebih baik dari kamu. Selama ini kamu mungkin ada di puncak tertinggi urutan cewek yang paling baik yang dia kenal. Bukannya langsung nyabet kamu, tapi dia merasa harus sebaik kamu juga buat dapetin kamu. Ingat ladies, laki2 itu suka berjuang. Berjuangnya juga dengan cara yang berbeda-beda. Sabar aja.

Penghargaan gimana? Berarti aku cuma cadangan?
Bukan. Kamu pemain utama. Berpikirlah positif. Jika nantinya kamu yang berhasil dia dapatkan, berarti tidak ada cewek lain yang lebih baik dari kamu DI MATANYA. Nggak ada yang lebih sabar dari kamu. Nggak ada yang lebih menghormati dia selain kamu. Nggak ada yang lebih menghargai dia selain kamu. (Ya, bisa jadi ibunya lebih sayang sama dia dari pada kamu sih ya.) Bukan berarti gak ada cewek yang lebih baik dari kamu. (Kalo itu pasti ada aja). Kamu dijadikan tolak ukur sama dia. Tolak ukur buat mendekati cewek-cewek lainnya. Kamu juga kudu realistis dong, cewek gak cuma satu. Gak cuma kamu aja. Dia berhak buat milah-milah. Kamu tenang aja. Selama kamu juga beranjak dewasa, mengembangkan diri, dan menjadi lebih baik lagi, tolak ukur dia juga akan meningkat. Kamu jadi semakin cemerlang gak hanya di matanya. Di mata cowok2 lain juga #eh

Penghargaan ya? Iya. Jika kamu dan dia bersama pada akhirnya, dia akan menerima apapun yang kamu punya. Apapun yang kamu bawa. Karena kamulah pilihan terakhirnya. Yang lain gak punya yang kita punya. Hatinya. #tsehhhh

Kalaupun akhirnya jika dia memilih orang yang bukan kamu, itu juga pelajaran buat kamu. Bukan berarti dia menemukan orang yang lebih baik dari kamu juga. Tapi dia menemukan orang yang baiknya sama dengan dia. Agak menyebalkan memang, karena dia sudah pernah menyatakan sama kamu duluan. Tapi dia nggak salah juga kan? Dia juga memberi kamu kebebasan untuk mencari, untuk menemukan. Dengan dia memilih orang lain, mungkin lebih memberimu kebebasan. Daripada digantungkan~

Kalau ada cowok yang suatu hari nanti menikahi kamu dengan alasan itu, "nggak ada lagi", berbahagialah. Kamu pilihan terakhir dia, tolak ukurnya dia untuk mendekat dengan cewek lain selain kamu. Berlatih untuk berpikir positif itu perlu. Kalau dia tidak serius untuk apa mengikatkan hubungan seumur hidup denganmu? Itu sudah penghargaan tertinggi. Bersiaplah. Mungkin benar dia, mungkin juga orang lain, yang menjadikan kita sebagai pilihan terakhirnya. Jangan galau ya! *bilangnya sambil ngadep kaca*