“Pak, rokoknya mbok ya dikurangin, Pak. Kesehatannya,
lho,” saya menatap sekilas ke arah Bapak. Bapak yang saya bilangin, masih
santai menghisap rokoknya. Sambil tetap memandang ke depan. Pagi itu kami
duduk-duduk di teras. Kembaran saya duduk di kursi sebelah Bapak, sedangkan
saya duduk di lantai, bersandar pada tiang besi bercat hijau, sambil asyik
motongin kuku. Kebiasaan merokok Bapak kami memang bisa dibilang parah. Dalam
satu hari beliau bisa menghabiskan lebih dari 2 kotak rokok Su**a, termasuk
merk rokok untuk perokok berat (katanya sih).
Hening sesaat. Kami tahu Bapak sangat tidak suka
ketika kami menyinggung bahasan ini. Jika sudah begini, kadang Bapak yang
sedang menikmati hangat dan sepetnya rokok, langsung pindah tempat menjauh dari
kami. Dengan tersenyum kecut, bilang, “Sudah tahu Bapak merokok, kenapa
dekat-dekat?”
Tapi tidak untuk pagi itu. Bapak melanjutkan
kegiatan merokoknya sebentar. Saya melanjutkan memotong kuku sebentar. Kembaran
saya entah duduk sambil ngelamun apa.
“Ini juga sudah dikurangin,” kata Bapak tiba-tiba.
Kami berdua langsung menoleh, memperhatikan dengan mata berbinar.