Nah, kali ini saya mau cerita. Lagi? Kok cerita tok
se, Ep....
Lah iya, mau berbagi cerita. Lagi sepi soalnya
*nangis darah*
Jadi guru itu menyenangkan, teman-teman. Entah
kenapa ya. Apa gara-gara ini cita-cita saya dari kecil? Apa karena dari sononya
jadi guru itu memang ditakdirkan se-menyenangkan ini? Apa karena sejauh ini
belum ada masalah-masalah yang signifikan? Hmmm.
Sudah terhitung dari bulan September (tepatnya
akhir Agustus) saya mengajar di salah satu Madrasah Aliyah swasta di kota saya,
Lumajang. Madrasah Aliyah (disingkat MA) itu setaraf SMA, tapi berbasis
keagamaan gitu lho. Jadi mereka punya lebih banyak mata pelajaran agama dalam
kurikulumnya, kayak fiqih, Qur’an Hadist, Sejarah Kebudayaan Islam, dll. Dan di
sana juga ada pesantrennya yang muridnya mencapai ribuan. Ceritanya saya ngajar
di sana bukan karena saya ngelamar di sana, tapi di sana lagi butuh guru
pengganti kimia karena guru kimianya sedang cuti hamil. Sumpah baru dengar juga
nama sekolahnya saat itu, dan baru tahu kalo di daerah itu ada sekolah dan
pesantren segede itu. (Hehe pangapunten, Gus.)